Thursday, May 17, 2012

Terjanglah Badai itu

Suatu saat aku sdg menikmati Pagi dlm perahu keselamatanku Ɣğ sdg

berlabuh. Kulihat Tuhan di ruang pengemudi, Ia menatapku & berkata :

"Lepaskanlah tambatan tali itu & biarkan Aku membawa engkau ke

seberang. Sebab bukan rancanganKu engkau tertambat di sini".



Gelisah & kuatir aku menjawab : "Tuhan, bukankah lebih baik aku tetap

di sini ? Aku tdk akan melihat taufan & badai & aku dpt kembali ke

darat kapan pun aku mau".



Dgn lembut, Ia memegang tanganku, menatap mataku & berkata : "Jika

engkau tdk mengalami taufan & badai, engkau tdk akan pernah melihat

bagaimana Aku mengatasi semua itu. Engkau ĴüĞa tdk akan pernah

melihat, bahwa Aku berkuasa atas semua itu".



Dlm pergumulan, aku memandangi tali Ɣğ mengikat perahu. Di tali itu,

ku lihat αϑα rasa kuatir akan Keuangan, Pekerjaan, Kesehatan,

Kehidupan & masa depanku. Dlm hatiku aku bertanya, Tahukah Ia apa Ɣğ

aku inginkan ? Mengertikah Ia apa Ɣğ aku rindukan ?



Tuhan memelukku & berkata lembut : "Memang tdk semuanya akan sesuai

dgn apa Ɣğ kau inginkan, bahkan mungkin kebalikannya Ɣğ akan engkau

dptkan. Тαρĭ maukah kau percaya, bahwa rancanganKu adlh rancangan

damai sejahtera & masa depanmu adlh masa depan Ɣğ penuh harapan ?".



Ia memeluk & menangis bersamaku, lalu dgn berat aku melepas tali

perahuku. Ku lepaskan semua rasa kuatir itu dari hatiku. Ku taruh hak

atas masa depanku di tanganNya, aku tdk tahu bagaimana nanti masa

depanku, Тαρĭ aku percaya Ia sdh αϑα di sana.



Sambil menangis aku menatapNya & berkata : "Jadilah nakhoda dlm

hidupku & marilah kita berlayar bersama".

1 comment: